Anak Mengalami Disabilitas Pendengaran? Lakukan Komunikasi Dengan Cara Ini

Kolompendidikan.id – Pendidikan dan ilmu pengetahuan merupakan hal yang sangat penting yang harus ada di sebuah negara. Sistem pembelajaran dan sistem pendidikannya pun harus selalu dibenahi dan mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal dengan negara yang lainnya. Pendidikan yang baik, bagus, dan berkualitas akan mencerminkan berkualitas atau tidaknya pendudukan disuatu negara tersebut. Jika pendidikan atau pengetahuan di negara tersebut bagus maka penduduk di negara tersebut juga akan bagus. Sebaliknya jika pendidikan di negara tersebut buruk atau tidak bagus maka penduduk di negara tersebut juga akan susah mendapatkan pendidikan yang berkualitas, imbasnya penduduknya akan tidak sebaik dari negara lain yang memiliki kualitas pendidikan yang bagus.

Karena pentingnya sebuah pendidikan, maka setiap anak haruslah mendapatkan pendidikan yang terbaik dan berkualitas untuk bekal mereka di masa depan mendatang. Karena setiap anak pastinya memiliki cita-cita yang harus mereka capai dan wujudkan.

Dalam sebuah pendidikan, tidak boleh untuk membedakan setiap anak atau setiap pelajar. Pendidikan merupakan hak setiap insan manusia di seluruh dunia tanpa melihat warna kulit, ras, suku, budaya, agama, negara, kondisi mental dan lain sebagainya. Seperti contohnya yang terjadi di muka umum bahwa kita jarang mendengar bahwa ada tempat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus SMA bagi orang berkebutuhan khusus. Semuanya harus mendapatkan pendidikan dan semuanya berhak untuk mendapatkan pendidikan. Termasuk anak yang berkebutuhan khusus dan juga anak-anak autis.

Namun, perlu diketahui bahwa jika kita berkomunikasi dengan anak-anak atau pelajar yang berkebutuhan khusus maka kita harus menyikapi dengan cara berbeda karena tidak semuanya bisa disamakan. Pernahkah Anda bertemu bahkan berkomunikasi dengan anak yang masuk kategori Anak Disabilitas Pendengaran (ADP)? Jika pernah, bagaimana cara berkomunikasi atau berinteraksi yang baik? Tentu tidak mudah, karena kita mungkin sebagian tidak bisa bahasa isyarat. Tentunya, berkomunikasi dengan mereka berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Untuk itu, penting sekali Anda paham bagaimana cara berkomunikasi dengan ADP.

Dari informasi yang kita dapatkan dari akun Instagram Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jumat (23/4/2021), berikut ini penjelasannya.

Lihat Juga:  Minat Kuliah di Inggris dengan Beasiswa? Simak Informasi Terbarunya Disini!

ADP adalah seseorang yang mengalami gangguan pendengaran, baik sebagian atau seluruhnya, dan biasanya mengalami hambatan dalam berbicara dan berbahasa. Secara sosial budaya ADP bukan merupakan kecacatan, bukan pula disabilitas fisik, walaupun sebagian besar masyarakat menilai ADP adalah anak yang tidak bisa mendengar. Mereka adalah kelompok minoritas linguistik pengguna bahasa isyarat. Orang tua tentu harus bisa semaksimal mungkin membantu mereka bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Ada beberapa cara atau tips cara untuk berkomunikasi dengan baik jika menghadapi ADP. Berikut ini 7 tips berinteraksi dan berkomunikasi dengan ADP bagi orang tua atau masyarakat :

1. 3S (Sentuh, Salam & Sapa)

Jika ADP tidak bertatap muka dengan orang tua atau orang dewasa, sentuh/tepuk pundak ADP agar tahu bahwa kita sedang mengajaknya berbicara.

Hal yang boleh dilakukan:

  • Tepuk ADP di bagian bahu perlahan.
  • Dalam keadaan darurat, boleh menggoyangkan bahu ADP jika diperlukan.

Hal yang tidak boleh dilakukan:

  • Menarik ADP dan menepuk keras-keras bahunya.
  • Menggunakan kaki untuk menendang atau menyentuh kaki ADP.
  • Menepuk kepala, wajah, dada, atau pinggul, atau bagian tubuh lainnya.
  • Menggunakan barang untuk menepuk ADP.

2. Melambaikan tangan

Coba gunakan lambaian tangan untuk mengembalikan perhatian ADP kepada anda, atau gunakan cahaya bila berada dalam suatu pertemuan dengan banyak orang.

Hal yang boleh dilakukan:

  • Melambai dengan satu tangan.
  • Melambai dengan jarak satu meter di depan atau di sebelah ADP.
  • Terus melambai sampai ADP benar-benar memperhatikan.

Hal yang tidak boleh dilakukan:

  • Melambai dengan menggunakan kedua tangan, kecuali dalam keadaan darurat.
  • Melambai terlalu dekat dengan wajah ADP. Ini bisa saja melukainya.
  • Melambai terlalu lebar.

3. Mengetukkan kaki ke lantai

Hal yang boleh dilakukan:

  • Ketukkan kaki secukupnya di lantai kayu.
  • Ketukkan kaki agak lebih keras untuk mendapatkan lebih banyak perhatian.
  • Ketukkan kaki beberapa kali, kadang-kadang sekali saja tidak cukup.

Hal yang tidak boleh dilakukan:

  • Mengetukkan kaki lebih dari beberapa kali saat tidak mendapatkan perhatian.
  • Mengetukkan kaki di lantai yang keras, karena percuma tidak menimbulkan getaran.
  • Mengetukkan kaki di tempat-tempat yang seharusnya sepi. Seperti di perpustakaan, dan rumah sakit, atau tempat lainnya di mana banyak orang bisa mendengar hentakan kakimu.
  • Mengetukkan kaki dengan ekspresi mata melotot. Hal ini menyebabkan ADP takut.
Lihat Juga:  Peran Guru dalam Mendorong Pembelajaran Kesetaraan Gender

4. Mematikan dan menghidupkan lampu

Hal yang boleh dilakukan:

  • Mematikan dan menyalakan lampu dengan cepat hanya satu kali.
  • Jika ADP tidak merespon bisa mematikan lampu lebih dari satu kali.

Hal yang tidak boleh dilakukan:

  • Mematikan dan menghidupkan lampu terlalu lama, terutama kalau ruangannya sangat gelap, anda malah bisa menyebabkan ADP takut.

5. Kontak mata

  • Jagalah kontak mata dan usahakan posisi mata kita sejajar dengan ADP.
  • Berlututlah jika berbicara dengan merendah ketika ADP sedang duduk atau berdiri.

6. Mimik atau gerakan bibir

  • Gerakkan bibir dengan jelas dan berbicara perlahan.
  • Jika dianggap masih belum mengerti, cobalah untuk mengulang perkataan atau informasi dapat ditulis di kertas dengan kalimat sederhana.
  • Gunakan bahasa tubuh atau ekspresi wajah untuk membantu berkomunikasi.
  • Gunakan media visual, misalnya dengan bahasa isyarat, coretan, gambar, buku cerita bergambar yang menarik.
  • Pelajari dan ajarkan bahasa isyarat untuk percakapan secara penuh.
  • Ajarkan berbahasa yang santun, ramah, dan sopanlah kepada ADP.

7. Berbicara dengan ADP

Hal yang boleh dilakukan:

  • Berbicaralah dengan wajah saling menatap, gerakan bibir yang jelas, dan pelan.
  • Ikut sertakan ADP untuk masuk ke dalam satu topik pembicaraan.
  • Tidak perlu berteriak ketika berbicara dengan ADP
  • Untuk Ayah atau guru laki-laki, jika ada kumis terlalu lebat, cukurlah kumis agar bentuk gerak bibirnya terlihat jelas. Untuk ibu atau guru perempuan, pergunakan pewarna bibir atau lipstik yang sewajarnya, agar ADP dapat berkonsentrasi membaca gerak bibir.

Hal yang tidak boleh dilakukan:

  • Mengalihkan pandangan dan meremehkan saat berbicara dengan ADP.
  • Memasukkan sesuatu ke dalam mulut saat berbicara.
  • Terlalu dekat ketika berbicara, letupan udara yang keluar akan mengganggu mata ADP.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *