Latih Pikiran dan Kreativitas Anak dengan Menggambar

Kolompendidikan.id – Banyak hal yang bisa kita ambil dari sebuah pendidikan. Pendidikan memiliki banyak hal. Ilmu pengetahuan, ilmu materi, teori, praktek, dan masih banyak yang lainnya yang bisa kita ambil. Memang luas jangkauan dari pendidikan. Ilmu pengetahuan bisa dicari dimanapun kita berada. Tidak hanya masalah tempat dan waktu saja. Ilmu tidak hanya bisa didapatkan hanya saat kita di dalam kelas, namun juga bisa kita dapatkan disaat kita bersosialisasi dengan orang lain, atau pun juga bisa saat kita melakukan kegiatan Bersama teman yang lain, dan sebagainya.

Ilmu pengetahuan wajib dicari oleh setiap manusia, lebih-lebih lagi jika anda seorang pelajar. Pelajar sangatlah membutuhkan banyak ilmu yang harus mereka serap dan dapatkan. Pendidikan dan ilmu sangat dibutuhkan oleh pelajar karena dengan itu semua, mereka bisa berusaha untuk selalu melanjutkan studi mereka ke jenjang yang lebih tinggi, dan juga dengan semua itu mereka bisa mewujudkan cita-cita mereka di masa mendatang.

Seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan maupun ilmu pengetahuan tidak melulu membahas mengenai ilmu sains, teknologi, ataupun pengetahuan sosial saja. Namun juga diperlukannya ilmu penunjang yang lainnya agar para pelajar bisa memacu otak mereka untuk selalu berpikir, berkreasi, dan berinovasi. Salah satunya ialah menggambar. Sebagian masyarakat Indonesia tentu familiar atau akrab dengan hasil gambar pemandangan anak-anak sekolah berupa gunung dengan hamparan sawah dan jalan raya. Atau bahkan, kamu semasa sekolah juga pernah menggambar hal serupa?

Lihat Juga:  Program Baru BRI Untuk Membangun Bangsa

Nah sudah dimulai sejak anak berada di PAUD, biasanya sudah diberi kesempatan untuk menggambar bebas. Dengan membiarkan anak menggambar bebas apapun yang mereka inginkan atau yang mereka pikirkan, hal ini bisa mengasah kreativitas dan membiarkan anak berimajinasi kemudian dituangkan dalam bentuk gambar di atas kertas. Dalam acara Sapa Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Direktur Jenderal GTK Kemendikbud Iwan Syahril sempat membagikan buku yang sedang dibacanya. Yakni, gubahan Mohammad Sjafei.

Terdapat dua buku yakni berjudul ‘Pendidikan MOHD. SJAFEI INS KAYUTANAM’ dan ‘Arah Aktif: Sebuah Seni Mendidik Berkreativitas dan Berakhlak Mulia’. Berikut kami kutipkan pemikiran Engku Sjafei dari buku ‘Arah Aktif: Sebuah Seni Mendidik Berkreativitas dan Berakhlak Mulia: Tujuan utama dari pelajaran menggambar adalah keaktifan. Baik dalam mencipta (kreatif) maupun dalam merasa (emosi). Dengan jalan menyalin gambar orang si anak diasuk ke arah reproduktif (mengulang) tidak ke arah produktif (mengadakan).

“Mohammad Sjafei atau Engku Sjafei ini sangat senang sekali menggunakan kata aktif kreatif. Jadi ini salah satu pokok pikiran dari Engku Sjafei. Beliau berkata dari beberapa kutipan dalam buku tersebut, Bangsa Indonesia harus diaktifkan,” kata Iwan seperti dikutip dari akun Instagram Ditjen GTK Kemendikbud pada Minggu 18 April 2021.

Dalam bukunya, Engku Sjafei yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PP dan K) ini memberikan analogi, jika murid disuruh meniru gambar dari papan tulis, dinding dan buku, berarti murid itu sedang dipasifkan oleh guru.

Lihat Juga:  Petunjuk Teknis Pengisian Blangko Ijazah Menurut Persesjen Kemendikbud Nomor 23 Tahun 2020

Iwan menjelaskan juga bahwa disaat siswa meniru atau seperti menghafal definisi saja, maka mereka akan pasif dalam berkreasi, karena apa? Karena mereka akan berusaha atau hanya terpaku untuk menggambar yang disuruhkan saja. Dalam hal ketajaman mata dan kesigapan matanya pasti aktif atau bagus, namun jiwa anak-anak akan menjadi pasif. Untuk mencapai jiwa produktif cara pemberian pelajaran menggambar harus diubah. Anak harus diberi banyak kemerdekaan. Jangan diikat erat-erat, sehingga inisiatif (angan-angan) anak tidak bisa berkembang.

“Dan murid sangat dirugikan, untungnya hanya mata dan tangan yang diperoleh tapi tidak seimbang dengan kerusakan jiwanya. Alangkah baiknya cara memberikan pelajaran menggambar secara merdeka dan bebas. Cara ini menumbuhkan keaktifan jiwa anak-anak yang luar biasa,” tegas Iwan.

Nah bagi para guru, kewajibannya ialah memimpin dalam kemerdekaan itu, tidak menetapkan. Anak yang menetapkannya sendiri apa yang akan ia kerjakan. Inilah garis besarnya. Anak-anak pada dasarnya suka menggambar, tidak digantungkan atas bakat. Bagi mereka menggambar adalah suatu alat untuk mengeluarkan perasaan, sama seperti bahasa. Perhatikanlah gambar anak-anak. Penuh ceritera di dalamnya. Tentang bentuk tidak dihiraukan, yang penting isinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *